Please Bantu Saya, Like This !!!

×

Powered By Blogger Widget and Get This Widget

Sunday, 27 April 2014

Sejarah Garam Indonesia

2.1 Pengertian garam Secara fisik, garam adalah benda padatan berwarna putih berbentuk kristal yang merupakan kumpulan senyawa dengan bagian terbesar natrium klorida (>80%) serta senyawa lainnya seperti magnesium klorida, magnesium sulfat, kalsium klorida, dan lain-lain. Garam mempunyai sifat / karakteristik higroskopis yang berarti mudah menyerap air, bulk density (tingkat kepadatan) sebesar 0,8 - 0,9 dan titik lebur pada tingkat suhu 8010C. Garam natrium klorida untuk keperluan masak dan biasanya diperkaya dengan unsur iodin (dengan menambahkan 5 g NaI per kg NaCl) yang merupakan padatan kristal berwarna putih, berasa asin, tidak higroskopis dan apabila mengandung MgCl2 menjadi berasa agak pahit dan higroskopis. Digunakan terutama sebagai bumbu penting untuk makanan, sebagai bumbu penting untuk makanan, bahan baku pembuatan logam Na dan NaOH ( bahan untuk pembuatan keramik, kaca, dan pupuk ), sebagai zat pengawet Sejarah Garam di Indonesia Berawal dari pertanian di ladang-ladang garam secara tradi¬sional, Industri Garam Indonesia terus berkembang, hingga saat ini menjadi salah satu bidang industri yang memberi penghidupan bagi banyak masyarakat di seluruh Indonesia. Hal ini disebabkan oleh tingkat kebutuhan dan rangkaian kegiatan yang menyertai keberadaan garam. Dari material awal, yaitu garam kasar (krosok), industri garam di Indonesia memproduksi berbagai jenis garam untuk memenuhi berbagai keperluan akan garam. Baik untuk kebutuhan rumah tangga, maupun kebutuhan industri, peternakan, dan pertanian. Namun demikian, industri garam di Indonesia bukan berarti berjalan mulus tanpa hambatan dan kendala. Kualitas garam yang belum maksimal, ketidakstabilan harga garam, proses produksi yang masih bersifat tradisional, dan persaingan dengan komoditi garam dari luar negeri merupakan sedikit dari sekian banyak masalah garam di Indonesia. Hal inilah yang harus terus dibenahi dan disempurnakan hingga Industri Garam Indonesia mampu menjadi pilihan utama bagi seluruh lapisan masyarakat. Garam yang didalamnya terkandung senyawa Kalium Lodat (garam beryodium) merupakan salah satu nutrisi penting yang harus dikonsumsi secara teratur oleh manusia. Jumlah garam yang harus dikonsumsi per hari untuk setiap orang kurang lebih adalah 9 gram. Untuk masyarakat di negara berkembang seperti Indonesia, selain untuk memenuhi nutrisi tubuh, konsumsi garam ditujukan juga untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan yodium. Garam beryodium adalah garam konsumsi yang mengandung komponen utama Natrium Chlorida (NaCl) minimal 94,7%, air maksimal 5% dan Kalium Iodat (KIO3) sebanyak 30-80 ppm (mg/kg) serta senyawa-senyawa lain. Penyebar¬an garam beryodium pada masyarakat saat ini merupakan upaya pemerintah yang paling efektif dalam rangka penanggulangan masalah GAKY (Gangguan Akibat Kekurangan Yodium). Garam merupakan salah satu bumbu masak yang hampir setiap makanan atau masakan membutuhkannya, sehingga dapat dikonsumsi langsung oleh masyarakat. Garam juga mudah untuk diperdagangkan oleh setiap pedagang atau pengecer dengan harga yang sangat terjangkau oleh masyarakat luas, baik oleh pedagang besar atau pedagang kecil. Sebagai tindak lanjut Keputusan Presiden RI No. 69 Tahun 1994 tanggal 13 Oktober 1994 tentang Pengadaan garam beryodium, maka telah diterbitkan Surat Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 77/M/SK/5/1995 tanggal 4 Mei 1995 tentang Persyaratan teknis pengolahan, pengawasan dan pelabelan garam beryodium, maka perlu dilakukan penjabaran lebih lanjut mencakup prinsip dasar proses produksi dan pengendalian mutu pengolahan garam serta tata cara perizinan. Sehingga dipandang perlu adanya petunjuk teknis sebagai pedoman dalam rangka pengadaan garam beryodium yang memenuhi syarat, yaitu antara lain : Pertama, proses produksi untuk memberikan gambaran tentang pembuatan garam beryodium dengan menitikberatkan pada pencucian, pengeringan/penirisan, yodisasi dan pengemasan. Kedua, sistem pengendalian mutu untuk memproduksi garam beryodium sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Ketiga, perizinan untuk menginformasikan kepada perusahaan garam beryodium maupun calon investor tentang cara memperoleh perizinan usaha industri. Industri garam nasional yang sebenarnya berasal dari garam rakyat tradisional (mutu rendah) yang kemudian diproses lebih lanjut menjadi garam briket (untuk bahan pengawet dan keperluan industri), garam halus (garam meja) dan sangat halus (bahan baku hujan buatan) serta makin bersih dan baik kualitasnya (tinggi NaCl-nya dan rendah kadar airnya) tersebut; dihasilkan terutama di sentra-sentra garam yang terletak di bagian Barat : Cirebon, Tengah : Pati, Rembang, Gresik dan Pulau Madura, dan Timur : NTB (Bima), NTT dan Sulawesi Selatan (Jeneponto), yang pada saat ini hanya menghasilkan produksi rata-rata 1 juta ton / tahun. Produksi garam rakyat ini hanya dapat diharapkan selama musim kering saja, yang berjalan secara efektif selama kurang-lebih 3-4 bulan saja selain 1,5 bulan sebelumnya untuk masa persiapan produksi; untuk keperluan sisa waktu dalam satu tahun, diperlukan adanya stok garam yang cukup banyak. Upaya untuk meningkatkan mutu dan jumlah garam rakyat yang diproduksi juga mengalami banyak kendala, antara lain : (1) makin buruknya mutu air laut sebagai bahan baku pembuatan garam, (2) makin sempit dan kecilnya petak-petak ladang garam karena kepemilikan per orang/penguasaan lahan yang terbatas, (3) bersaing dengan penggunaan lahan yang lebih produktif, (4) lamanya musim hujan dan tingginya curah hujan pada waktu tertentu, (5) makin tingginya biaya produksi di saat harga garam rakyat jatuh, dan lain-lain. Ironi Garam di Negeri Bahari Apa Masalahnya? Pada awal tahun 2012 yang lalu, di negeri kita - negeri bahari - sempat terjadi kegaduhan masalah garam. Terjadi 'krisis' garam, karena produksi garam nasional tidak dapat memenuhi kuota kebutuhan nasional. Pemerintah terpaksa mengimpor garam sebesar 3 juta ton dari Australia, India dan China, meskipun selama ini secara rutin kita telah mengimpor garam sebesar 2,2 juta ton pertahun. Ini merupakan ironi bagi sebuah negeri bahari dengan garis pantai terpanjang nomor dua di dunia setelah Kanada, padahal sebagian penduduknya memiliki kultur budidaya garam yang kuat. Garam yang umum kita kenal sebagai bahan pemberi rasa (flavor) pada makanan adalah senyawa kimia berupa Natrium Klorida (NaCl). Di Indonesia garam sebagian besar diperoleh dari air laut yang diuapkan, namun demikian persoalan garam merupakan persoalan nasional yang sampai kini tidak kunjung selesai permasalahannya. Disatu sisi kualitas garam nasional kurang memenuhi syarat sebagai garam industri karena kandungan NaCl-nya kurang 94,7%, disisi lain masih rendahnya kualitas kebersihan garam untuk dikonsumsi sebagai makanan. Hal itulah yang merupakan faktor mengapa garam nasional kurang menarik jika dibandingkan dengan garam impor, utamanya garam yang berasal dari Australia yang mempunyai kualitas jauh lebih baik. Di Indonesia kebutuhan garam secara nasional per tahun diperkirakan sebanyak 3.200.000 ton dengan rincian 1.400.000 ton untuk kebutuhan konsumsi dan 1.800.000 ton untuk kebutuhan industri kimia dan industri pangan. Sedangkan kemampuan produksi nasional hanya mencapai ± 1.000.000 ton pertahunnya dengan rincian produksi garam rakyat sebanyak 700.000 ton dan PT. Garam sebanyak 300.000 ton. Lahan garam rakyat seluruhnya tersebar dan terkonsentrasi di 6 propinsi yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, sedangkan lahan PT. Garam berada didaerah Madura Jawa Timur. Sebenarnya apa yang menjadi masalah sehingga industri garam dan usaha garam rakyat berada dalam gelombang ketidakmampuan produksi ? Berdasarkan kajian IPB (2006), sekalipun merupakan negara bahari yang memiliki garis pantai sepanjang 81.000 kilometer, Indonesia akan sulit swasembada garam. Alasannya, tidak ada hamparan lahan luas di kawasan pesisir pantai untuk dijadikan ladang garam berskala besar. Penyebab lain, musim kemarau pada sebagian wilayah Indonesia sangat pendek, yakni empat sampai enam bulan. Saat ini, Indonesia hanya memiliki ladang garam seluas 25.383 hektar dengan total produksi satu juta ton. Sementara kebutuhan nasional mulai tahun 2010 mencapai 3,2 juta ton, dengan total pertumbuhan kebutuhan 8,4 persen. Itu berarti, untuk dapat berswasembada garam, Indonesia membutuhkan lahan minimal 75.000 hektar karena kemampuan produksi hanya 40 ton sampai dengan 60 ton per hektar per tahun. Alasan lain, minat investor untuk menanamkan modal dalam usaha produksi garam sangat rendah. Bahkan, saat ini hanya ada satu perusahaan di bidang ini, yakni PT Garam dengan areal seluas 5.116 hektar. Selebihnya dikelola petani secara tradisional pada lahan 25.542 hektar. Harga yang diberlakukan pun sangat rendah, yakni Rp 300-Rp 550 per kilogram. Akibatnya, setiap tahun hampir tak ada penambahan lahan garam baru. Malahan, yang terjadi adalah penyusutan lahan karena dialihfungsikan untuk usaha lain. Berdasarkan data Departemen Kelautan dan Perikanan, 2007, hingga saat ini hanya ada satu perusahaan yang mau berinvestasi di usaha pergaraman. Diketahui bahwa salah satu penyebabnya adalah karena bidang usaha ini tidak dapat dilakukan dalam skala besar, sebab belum ditemukan hamparan kawasan pesisir seluas minimal 10.000 hektar. Investasi bidang usaha ini juga membutuhkan investasi yang tinggi dengan risiko yang cukup besar. Akibatnya, pedagang cenderung memilih menjadi importir garam, sebab tak membutuhkan biaya investasi mahal. Apalagi, tak pernah diberlakukan bea masuk (BM) impor garam sehingga harga gula impor jauh lebih murah dibanding garam lokal. Sehingga saat ini pemerintah sedang mencari lahan kawasan pesisir di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Sulawesi Selatan. Di dua provinsi ini masih terdapat lahan yang cukup luas dengan musim kemarau yang panjang. Peluang akan ditawarkan kepada sejumlah investor untuk membuka usaha garam dengan melibatkan rakyat setempat. Jika diminati dan mulai ada investasi, maka pemerintah akan memberikan sejumlah stimulus. Pemberdayaan Industri Garam Pada saat ini, Australia, Mexico atau China dianggap sebagai negara produsen garam yang besar di dunia. Ladang garam Australia yang dikelola secara besar-besaran dapat menghasilkan sekitar 70 cm endapan garam dan hanya 50 cm bagian atas yang diambil, sehingga mutunya baik. Produksi ladang garam di Australia untuk lahan pantai seluas 10.000 Ha, mendapat sinar matahari yang lebih panjang/panas, dapat menghasilkan 1 juta ton / tahun. Namun sistem industri garam di China (dengan 4 musim dan dikelola dalam skala yang lebih kecil) mungkin lebih sesuai dengan kondisi Indonesia. Penggunaan peralatan yang lebih modern akan sa¬ngat membantu proses produksi garam, utamanya pada saat menghadapi panen raya dimana produksinya lebih tinggi dibandingkan dengan kemampuan tenaga kerja. Dengan penggunaan peralatan yang lebih mudah tersebut akan mampu menigkatkan produktifitas areal pegaraman. Pandangan masyarakat yang ada saat ini menunjukkan bahwa produksi garam dianggap sebagai industri yang kurang menguntungkan karena tidak memerlukan tingkat keahlian apapun. Pandangan ini tumbuh dari kenyataan yang ada terutama apabila dihubungkan dengan pengolahan air laut menjadi garam oleh petani garam tradisional konvensional yang kurang memanfaatkan kaidah-kaidah ilmiah. Kebiasaan yang didasarkan pada keadaan alamiah dan terasa santai akan menghasilkan produk yang tidak bermutu dan tidak seimbang dengan perolehan hasil yang didapat. Hal ini merupakan tantangan bagi kita semua bagaimana meng-ubah kebiasaan masyarakat tani kita dari pengendalian yang bersifat alamiah dengan menjadi pengendalian yang mene¬rapkan kaidah-kaidah ilmiah dalam memproduksi garamnya. Beberapa upaya telah dilakukan Pemerintah untuk memberikan pemahaman kepada petani tentang cara produksi garam yang baik yaitu dengan mengadakan proyek demplot lahan percontohan penggaraman kepada beberapa kelompok tani disamping upaya bantuan teknis pelatihan yang dapat diterapkan. Saat ini demplot tersebut telah direplikasikan ke 17 Kabupaten di Indonesia. Semua gagasan penerapan memerlukan peningkatan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan dari para pe¬ngelola. Usaha peningkatan ini dapat diawali dengan pengetahuan dasar dan penerapan cara yang murah, mudah dan tepat. Usaha penerapan ini akan dapat mengubah pendapat yang ada yang menganggap industri garam atau pengolahan air laut merupakan usaha yang tidak memberikan keuntung¬an dan tidak memerlukan pengetahuan serta keahlian. Kebijakan Pemerintah Beberapa hal yang menjadi penghambat upaya pemberdayaan komunitas petambak garam secara internal seperti rendahnya tingkat pendidikan, kepemilikan modal usaha, dan aset produksi yang sangat terbatas. Petambak garam yang pendidikannya rendah akan mengolah garam secara tradisional, tidak akan menggunakan teknologi dan mesin baru karena keterbatasan permodalan. Akibatnya produktivitas rendah dan tingkat pendapatan rendah. Dalam rangka mendukung percepatan penanggulang¬an kemiskinan yang menjadi program prioritas Pemerintah, maka sejak tahun 2009 KKP melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Kelautan dan Perikanan (PNPM Mandiri-KP) melaksanakan program penanggulangan kemiskinan utamanya bagi masyarakat kelautan dan perikanan. Pada tahun 2011 pelaksanaan PNPM Mandiri KP terdiri dari Pengembangan Usaha Mina Pedesaan (PUMP) dan Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat (PUGAR). KKP melaksanakan program PUGAR sebagai salah satu strategi untuk pemenuh¬an kebutuhan garam nasional sehingga dapat mengurangi jumlah impor garam. PUGAR adalah program pemberdayaan yang difokuskan pada peningkatan kesempatan kerja dan kesejahteraan, bagi petambak garam melalui prinsip bottom-up, artinya petambak garam akan terlibat dalam perencana¬an program, pelaksanaan dan melakukan monitoring dan evaluasi sesuai dengan mekanisme yang ditentukan. Adapun tujuan PUGAR adalah: (1) Membentuk sentra-sentra usaha garam rakyat di lokasi sasaran; (2) Memberdayakan dan meningkatkan kemampuan petambak garam rakyat dalam kelompok usaha garam rakyat; dan (3) Meningkatkan akses terhadap permodalan, pemasaran, informasi, serta ilmu pengetahuan dan teknologi bagi petambak garam rakyat. Seluruh tahapan pelaksanaan PUGAR berbasis pemberdayaan masyarakat dengan tujuan untuk menciptakan dan mening¬katkan kapasitas masyarakat dalam melaksanakan proses pembangunan dari, oleh dan untuk masyarakat. Peningkatan kapasitas petambak garam difokuskan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan dalam rangka meningkatkan produksi yang meliputi keterampilan, keahlian, dan pengetahuan. Kita berharap program tersebut berjalan lancar, dan dapat memacuproduktivitasgaram nasional sesuai harapan negeri bahari . ** (Tim Redaksi Jalasena/dmw) Berita Terkait • Importasi bahan baku makanan tetap tinggi • Harga garam rakyat belum beranjak naik • Indonesia bisa surplus 1,6 juta ton garam di 2013 • PT Garam alokasikan Rp 110 miliar untuk beli lahan • PTPN X bangun pabrik gula di Madura pada 2014 Garam termasuk produk yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Walaupun lebih dikenal sebagai penyedap makanan, namun sejatinya manfaat garam sangat luas. Garam telah menjadi bahan pengawet alami sejak berabad-abad silam. Selain juga digunakan di berbagai industri, seperti untuk cairan infus, campuran dalam sabun hingga sampo. Walaupun keberadaannya sangat penting, bisnis dan budidaya garam kurang populer di masyarakat. Hanya masyarakat daerah tertentu, seperti Madura dan Sidoarjo yang akrab dengan budidaya garam. Maklum, banyak yang menganggap bisnis ini kurang menggiurkan, lantaran rumit dan harganya terbilang rendah. Sebenarnya, kebutuhan garam di dalam negeri cukup besar. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KPP) tahun 2012 menyebutkan, kebutuhan garam di dalam negeri sebanyak 1,44 juta ton. Adapun total produksi garam nasional 2,97 juta ton. Meski surplus, Indonesia masih mengimpor garam, lantaran produksi lokal tidak terserap sempurna. Cuaca menyebabkan panen garam petani tidak menentu. Selain itu, hasil panen petambak tradisional dinilai tidak memenuhi syarat untuk masuk ke pabrik besar. Makanya, pemain di bisnis budidaya garam harus pandai-pandai memanfaatkan peluang. Kualitas garam yang dihasilkan harus diupayakan bisa menembus skala industri. Salah seorang pebudidaya garam adalah Lia Elings. Melalui PD Danam Garam, ia sudah menggeluti usaha ini sejak 2004 silam. Lia membudidayakan dua macam garam, yakni garam putih dan kuning. “Garam putih untuk makanan, sedangkan garam kuning untuk industri,” tuturnya. Harga jual garam putih Rp 500 per kg, dan garam kuning sekitar Rp 600 per kg. Tambak garam milik Lia berlokasi di Serang, Indramayu, dan Cirebon. Garam hasil produksi tambaknya dipasok ke pabrik tekstil dan industri pakan ternak di Tangerang, Jawa Tengah dan Jabodetabek. Sekali panen, Lia bisa menghasilkan 30-60 ton garam. "Panen bisa dua bulan sekali atau lebih, tergantung cuaca," ujarnya. Menurutnya, budidaya kristal putih ini tidak terlalu rumit, namun butuh kesungguhan dan ketelitian. Dari bisnis garam ini, ia bisa meraup omzet minimal Rp 18 juta sebulan. Pebisnis garam lainnya yaitu Gazali di Madura. Tiap bulan, ia bisa mengantongi omzet Rp 20 juta sebulan dari menjual sekitar 25 ton garam. Ia memang tidak terjun langsung membudidayakan garam. Namun, ia melibatkan mitra petani garam di di tiga lokasi, yaitu Madura, Pasuruan dan Sidoarjo. Kualitas garam yang dijual Gazali pun terbilang bagus. Buktinya, ia bisa memasok garam untuk kebutuhan pabrik makanan dan pengawetan ikan di Kalimantan dan Sulawesi. (Bersambung) TEKNIK PEMBUATAN GARAM A. TEKNIK TRADISIONAL Pembuatan garam rakyat di Indonesia yang ada saat ini rata-rata masih menggunakan teknik yang masih tradisional dimana hasil produksi baik secara kualitas maupun kuantitas masih rendah. Kondisi ini terjadi karena penerapan proses produksi pada teknik tradisional masih sederhana teknologinya. Alur proses produksi yang biasa diterapkan para petani garam di Indonesia yaitu air laut (3 Be) dimasukkan dalam petak penampungan air laut (tandon) kemudian air tersebut dialirkan pada beberapa petak peminihan dengan tujuan untuk menguapkan air laut sehingga kandungan garam didalamnya akan semakin pekat (16 Be) seiring perjalanan air laut tersebut dari petak peminihan yang satu ke petak peminihan yang terakhir (penampungan air tua). Dari petak pemihan ini selanjutnya air yang konsentrasi kandungan garamnya makin tinggi ini langsung di alirkan ke meja garam untuk di kristalkan. Tahapan-tahapan pada teknik tradisional ini memerlukan waktu yang cukup lama (> 10 hari) untuk menghasilkan garam yang kualitasnya juga masih rendah. Rendahnya kualitas garam tersebut bisa disebabkan oleh kandungan NaCl yang kurang karena proses produksi yang masih sangat sederhana dan cara panen yang seringkali mengakibatkan lumpur dasar petakan masih melekat pada garam. Untuk menanggulangi hal tersebut maka dapat dilakukan penambahan bahan aditif sehingga akan menghasilkan garam yang bersih karena bahan-bahan pengotor (impurities) tidak lagi menempel pada garam karena diikat oleh bahan aditif tersebut. Apabila dalam pola tradisional akan dilakukan penambahan zat aditif maka perlakuan tersebut sama sekali tidak merubah atau memodifikasi lahan yang ada. Penambahan zat aditif dapat di lakukan pada tahap bak penampungan air tua atau langsung ditaburkan pada tahap kristalisasi di meja garam. Pemberian zat aditif ini selain dapat membuat garam yang diproduksi semakin bersih, juga akan menghasilkan garam dengan kandungan NaCl yang tinggi pula. Gambar 1. Proses Tradisional B. TEKNIK SEMI INTENSIF Pada proses pembuatan garam menggunakan teknik semi intensif membutuhkan modifikasi lahan tambak dengan penambahan ulir pada tahap peminihan dengan tujuan untuk mempercepat proses penuaan air. Penambahan ulir disini dimaksudkan untuk mempercepat penguapan pada air laut sehingga saat tiba di petak penampungan sudah mencapai 20 Be dalam waktu yang lebih singkat apabila kondisi cuaca dan iklim memungkinkan. Pada teknik semi intensif ini, ulir dibuat berbentuk petakan – petakan kolam tanah yang berkelok – kelok dengan dasar yang tidak rata untuk membuat arus air secara alami sehingga terjadi proses penguapan yang di bantu cahaya matahari dan angin. Dengan adanya ulir ini diharapkan dapat mempercepat waktu penuaan air laut sehingga proses produksi dapat lebih singkat. Ketinggian air pada ulir berkisar antara 10 – 20 cm. Perbandingan luas lahan peminihan dengan lahan kristalisasi adalah 65 : 35. Meja kristalisasi dapat dilapisi terpal plastik sehingga bebas bocor, mudah dirawat dan dapat segera digunakan bila musim garam tiba. Apabila akan menggunakan zat aditif maka ditaburkan pada tahap kristalisasi di meja garam. Dengan menggunakan teknik semi intensif dengan penambahan bahan aditif, akan menghasilkan garam yang dengan kualitas tinggi, produksinya semakin meningkat serta waktu produksi semakin singkat. Berdasarkan hasil yang telah diterapkan dilapangan, dalam kondisi normal penggunaan zat aditif ini dapat meningkatkan produksi garam sekitar 30 % dari hasil produksi dengan yang konvensional. PEMBAHASAN Gambar 2. Proses Semi Intensif C. TEKNIK BACK YARD Pembuatan garam secara sederhana tanpa memerlukan lahan tambak yang sangat luas tetapi memanfaatkan pekarangan rumah sebagai lahan produksi garam. Bahan baku air tua ini dapat di datangkan dari tambak-tambak garam yang sengaja membuat air tua untuk didistribusikan pada usaha pembuatan garam menggunakan backyard. Jadi dengan teknik ini terdapat beberapa elemen usaha yang saling mendukung, saling membutuhkan dan saling menguntungkan. Bahan baku dapat berupa air tua dengan kadar kepekatan minimum 20 Be sehingga langsung mengalami tahap kristalisasi. Untuk membuat air tua tersebut menjadi Kristal-kristal garam maka dapat di buat meja kristalisasi menggunakan terpal plastic sehingga bebas bocor, mudah dirawat dan dapat dipindahkan. Luas meja kristalisasi minimal 2,4 m x 1,2 m x 0,04 m. Proses kristalisasi air tua dilakukan dengan penyinaran matahari. Diusahakan letak meja kristalisasi ini mendapatkan sinar matahari penuh dari pagi sampai sore atau tidak tertutup oleh pepohongan atau bangunan. Apabila akan menggunakan zat untuk mempercepat proses kristalisasi maka dapat memakai zat aditif yang ditaburkan langsung di meja kristalisasi. Gambar 3. Proses Back Yard

Wednesday, 12 March 2014

Makalah lengkap tentang jaringan pada tumbuhan

Tugas makalah biolagi mengenai Jaringan Tumbuhan Nama : Ahmad Fatoni Dwi P Kelas : XI IPA 2 (SMA N 1 PRAYA) Absen: 1 Latar Belakang Saya ingin menjelaskan kepada teman-teman apayang dinamakan jaringan tumbuhan dan apa saja yang terkandung di dalamnya. Karena dalam bab ke dua ini kita akan membahas tentang materi ini. Pertama tama marilah kita untuk mengenal apa sih yang di namakan jaringan pada tumbuhan. 1. Jaringan adalah sekelompok sel yang memiliki bentuk dan fungsi sama serta melaksanakan tugas tertentu Kemudian berdasarkan tipe struktur dan fungsi sel, jaringan diklasifikasikan ke dalam dua kelompok yaitu 1. Jaringn meristem (Embrional) 2. Jaringan dewasa. Jaringan dewasa dibagi lagi menjadi a. Jaringan pelindung b. Jaringan dasar c. Jaringan penguat d. Jaringan pengangkut JARINGAN PADA TUMBUHAN Jaringan adalah sekelompok sel-sel yang memiliki struktur dan fungsi sama. Berdasarkanaktivitas pembelahan sel selama fase pertumbuhan dan perkembangan sel/jaringan tumbuhan,jaringan pada tumbuhan dibagi menjadi dua, yaitu jaringan meristem dan jaringan dewasa (permanen). A. Jaringan Meristem Jaringan meristem adalah jaringan yang terus-menerus mengalami pembelahan ataumasih bersifat embrionik. Sel-sel meristem membelah terus untuk menghasilkan sel-sel baru,beberapa hasil pembelahan akan tetap berada dalam jaringan meristem yang disebut sel inisialatau sel permulaan. Sedangkan sel-sel baru yang digantikan kedudukannya oleh sel meristemdisebut derivatif atau turunan. Proses pertumbuhan dan spesialisasi secara morfo-fisiologi selyang dihasilkan oleh meristem disebut diferensiasi. Jaringan yang mengalami diferensiasiakan kehilangan karakteristik embrioniknya dan menjadi dewasa/permanen. Ciri-ciri jaringan meristem: - Sel-selnya muda, aktif melakukan pembelahan dan pertumbuhan - Ukuran selnya kecil dan seragam - Letak sel-sel rapat, tidak ada ruang antar sel - Bentuk sel bervariasi: bulat, lonjong, atau poligonal dengan dinding sel tipis - Banyak mengandung sitoplasma sebagai tempat terjadinya berbagai reaksi - Memiliki inti sel satu atau lebih, inti sel relatif besar - Vakuola kecil atau hampir tidak ada Jaringan meristem diklasifikasikan berdasarkan beberapa kriteria yaitu: a. Berdasarkan asal pembentukannya, meristem dibedakan menjadi promeristem, meristem primer dan meristem sekunder. 1) Promeristem, jaringan yang ada pada saat tumbuhan masih dalam tingkat embrio. 2) Meristem Primer Meristem yang sel-selnya secara langsung berkembang dari sel-sel embrionik, atau lanjutan dari kegiatan embrio/lembaga. Meristem primer, misalnya pada ujung akar dan ujung batang, mengakibatkan pertumbuhan primer berupa pertambahan tinggi. Daerah meristematik yang dibentuk promeristem berupa: protoderma, prokambium dan meristem dasar (ground meristem). Ketiganya inilah yang disebut sebagai meristem primer. Protoderma akan membentuk jaringan epidermis. Prokambium akan membentuk kambium fasikuler/intrafasikuler yang nantinya membentuk jaringan pembuluh primer (xilem primer dan floem primer). Meristem dasar akan membentuk jaringan dasar tumbuhan yang mengisi empulur maupun korteks, misalnya parenkim, kolenkim dan sklerenkim. 3) Meristem Sekunder Meristem yang berkembang darijaringan dewasa yang sudah mengalamidiferensiasi dan menjadi bersifatembrional kembali. Contohnya adalahkambium intervasis. Kambiuminterfasikuler berkembang dari parenkim akar/batang yang terletak diantara xilem dan floem. Kambium intervasis ke arah dalam akan menghasilkan xilem sekunder sedangkan ke arah luar akan menghasilkan floem sekunder. Aktivitas ini menyebabkan pertumbuhan pertumbuhan sekunder sehingga batang tumbuhan dapat membesar (pada Dicotyledonae dan Gymnospermae). Selain itu terdapat kambium gabus (felogen) yang mengembangkan periderm (jaringan gabus). Gambar meristem apikal pada ujung batang dan ujung akar dan aktivitas pertumbuhan primer b. Berdasarkan letaknya, meristem dibedakan menjadi meristem apikal, meristem interkalar dan meristem lateral. 1) Meristem apikal (ujung) Meristem apikal terdapat pada ujung-ujung pokok batang dan cabang serta ujung akar dan selalu menghasilkan sel-sel untuk tumbuh memanjang. Pertumbuhan memanjang akibat aktifitas meristem apikal disebut pertumbuhan primer dan jaringan yang terbentuk disebut jaringan primer. 2) Meristem interkalar (antara) Meristem interkalar terdapat diantara jaringandewasa. Contohnya terletak pada pangkal tiap ruaspada batang tumbuhan yang berbuku-buku. Aktivitasjaringan ini menyebabkan pertambahan panjang dandiameter ruas batang. Contoh tumbuhan yangmemiliki meristem interkalar adalah rumputrumputan (Gramineae). 3) Meristem lateral (samping) Meristem lateral atau meristem samping adalah meristem yang menyebabkan pertumbuhan ke arah samping (membesar), terletak sejajar dengan permukaan organ. Contohnya adalah kambium dan kambium gabus. Kambium ini terbentuk dari dalam jaringan meristem yang telah ada pada akar dan batang. B. Jaringan Dewasa (Permanen) Jaringan dewasa merupakan jaringan yang terbentuk dari hasil diferensiasi sel-sel yang dihasilkan jaringan meristem, sehingga memenuhi suatu fungsi tertentu. Jaringan dewasa pada umumnya pertumbuhan terhenti atau sementara terhenti. Jaringan dewasa ada yang disebut permanen karena telah mengalami diferensiasi yang sifatnya irreversibel. Ciri-ciri jaringan dewasa antara lain: - Tidak melakukan aktivitas membelah diri - Ukuran sel relatif lebih besar daripada sel meristem, vakuola berukuran besar - Plasma sel sedikit hanya seperti selaput yang menempel pada dinding sel - Sel kadang telah mati (tidak ada sitoplasma) - Terdapat ruang antar sel, kecuali pada epidermis Jaringan dewasa meliputi, jaringan pelindung (epidermis), jaringan dasar (parenkim), jaringan penguat/penyokong (kolenkim dan sklerenkim), jaringan pengangkut/vaskuler(xilem dan floem) dan jaringan gabus (peridermis). 1. Jaringan Pelindung (Epidermis) Jaringan epdermis merupakan jaringan paling luar yang menutup permukaan organ tumbuhan, seperti daun, bagian bunga, buah dan biji, serta batang dan akar sebelum mengalami penebalan sekunder. Jaringan epidermis berfungsi sebagai pelindung jaringan yang ada di bagian sebelah dalamnya. Bentuk, ukuran, susunan dan fungsi sel epidermis berbeda-beda pada berbagai jenis organ tumbuhan. Ciri-ciri khas dari sel-sel epidermis adalah : - Sel-selnya hidup, biasanya terdiri dari satu lapis sel tunggal - Sel-sel rapat satu sama lain membentuk bangunan padat tanpa ruang antar sel. - Memiliki beragam bentuk, ukuran dan susunannya - Tidak memiliki klorofil - Dinding sel ada yang tipis, ada yang mengalami penebalan di bagian yang menghadap ke permukaan dan ada pula yang semua sisi dindingnya tebal berlignin. Beberapa bentuk khusus sel epidermis yang terdiferensiasi struktur dan fungsinya (derivat atau turunanannya) antara lain : a. Stomata (mulut daun) yang berfungsi sebagaitempat pertukaran gas (O2,CO2, dan uap air/H2O).Stomata berupa ruang antar sel yang dibatasi olehdua sel khas yan disebut sel penjaga. Sel penjagadan lubang tersebut bersama-sama membentukstomata. Pada banyak tumbuhan dapat dibedakanyaitu sel pelengkap, yang merupakan dua atau lebihsel khas yang membatasi sel penjaga. Sel tetangga berperan dalam perubahan osmotik yang menyebabkan gerakan sel penjaga yang mengatur lebar stomata. Letak stomata kebanyakan di permukaan bawah daun. Tipe utama stomata pada Dicotyledonae berdasarkan susunan sel epidermis yang berdekatan dengan sel penjaga, antara lain: 2) Tipe anomositik (ranunculaceous), yaitu sel penjaganya dikelilingi oleh sejumlah sel tertentu yang tidak berbeda dengan sel epidermis yang lain dalam bentuk maupun ukuran. Tipe ini umum pada Ranunculaceae, Geraniaceae, Capparidaceae, Cucurbitaceae, Malvaceae, Scrophulariaceae, Tamaricaceae, dan Pavaveraceae. 3) Tipe anisositik (cruciferous), yaitu setiap sel penjaga dikelilingi oleh tiga sel tetangga yang ukurannya tidak sama. Tipe ini umum pada Cruciferae, pada Nicotiana, Solanum, Sedum dan lainnya. 4) Tipe parasitik (rubiaceous), yaitu setiap sel penjaga bergabung dengan satu atau lebih sel tetangga, sumbu membujurnya sejajar dengan sumbu sel penjaga dan apertur. Tipe ini mum pada Rubiaceae, Magnoliaceae, sebagian besar spesies Concovulaceae, dan Mimosaceae, beberapa genus dari Papilonaceae seperti Ononis, Arachis, Phaseolus, dan Psoralea, dan lainnya. 5) Tipe diasitik (caryophyllaceous), yaitu setiap stoma dikelilingi dua sel tetangga, umumnya dinding selnya itu membuat sudut siku-siku terhadap sumbu membujur dtoma. Tipe ini umumnya pada Caryophyllaceae, Acanthaceae dan lain-lain. 6) Tipe aktinositik, yaitu stomata dikelilingi oleh lingkaran sel yang menyebar dalam radius. b. Trikoma, tonjolan epidermis dan tersusun atas beberapa sel yang mengalami penebalan sekunder. Trikoma berperan sebagai kelenjar yang mengeluarkan zat seperti terpen, garam dan gula. Rambut akar juga merupakan bentuk lain dari trikoma yang memiliki dinding sel tipis dengan vakuola yang besar. Fungsi lain trikoma antara lain: - Mengurangi penguapan (pada epidermis daun), - Meneruskan rangsang, - Melindungi tumbuhan dari gangguan hewan, - Membantu penyebaran biji, dan - Sebagai penghasil nektar c. Lentisel, berfungsi seperti stomata yaitu sebagai tempat keluar masuknya gas-gas ke dalam tumbuhan yang terdapat pada batang. d. Velamen merupakan lapisan sel mati di bagian dalam jaringan epidermis pada akar gantung (akar udara) tumbuhan anggrek dan berfungsi sebagai tempat penyimpanan air. e. Sel kipas tersusun dari beberapa sel berdinding tipis dengan ukuran lebih besar dibandingkan sel-sel epidermis di sekitarnya. Bila terjadi penguapan air yang relatif besar,sel kipas akan menggulung sehingga daun akan menggulung untuk mengurangi penguapan yang lebih lanjut. Sel kipas dapat dijumpai pada epidermis atas daun familia Gramineae dan Cypereae. f. Sel silica/sel gabus, sel epidermis seperti serat pada Pteridophita tertentu, Gymnospermae,dan beberapa Gramineae, dan Dicotyledonae tertentu. Pada Gramineae diantara selepidermis batang ada yang panjang ada 2 tipe sel pendek, yaitu sel silika dan sel gabus. Sel silika berkembang penuh berisi badan silika yang merupakan massa isotrop dengan silika di bagian pusat yang berupa bulatan kecil. Pada penampang melintang, badan silika ada yang tampak bundar, elips, seperti halter, atau seperti pelana. Dinding sel gabus mengandung zat gabus (suberin) dan banyak berisi bahan organik pada. Di atas sel pendek seringkali terdapat papila, duri, atau rambut. Sel bagus kebanyakan pada kebanyakan tumbuhan berisi badan silika, dan pada rerumputan tertentu, badan silika jugaterdapat pada beberapa sel panjang. Badan silika juga terdapat dalam sel epidermis khususdari Cypereae dan beberapa Monocotyledonae. g. Litokis, sel yang mengandung sistolit. Litosis terpadat pada erpidermis daun beringin (Ficus sp.) berupa penebalan ke arah sentripetal yang tersusun atas tangkai selulosa dengan deposisi Ca-karbonat (kalsium karbonat) yang membentuk bangunan seperti sarang lebah yang disebut sistolit. 2. Jaringan Dasar (Parenkim) Jaringan parenkim merupakan suatu jaringan yang terbentuk dari sel-sel hidup, dengan struktur morfologi serta fisiologi yang bervariasi dan masih melakukan segala kegiatan prosesfisiologis. Jaringan parenkim disebut jaringan dasar karena dijumpai hampir di setiap bagian tumbuhan. Contohnya pada batang dan akar, parenkim dijumpai diantara epidermis dan pembuluh angkut, sebagai korteks. Parenkim dapat pula dijumpai sebagai empulur batang,Pada daun, parenkim merupakan mesofil daun, yang kadang terdiferensiasi menjadi jaringan tiang dan jaringan bunga karang, parenkim dijumpai sebagi parenkim penyimpan cadanganmakanan pada buah dan biji. Berdasarkan fungsinya, parenkim dibedakan menjadi beberapa macam: 1. Parenkim asimilasi, yaitu parenkim yang bertugas melakukan proses pembuatan zat-zat makanan, terletak di bagian tumbuhan berwarna hijau. 2. Parenkim penimbun, berfungsi sebagai jaringan penyimpan cadangan makanan sebagai larutan dalam vakuola, bentuk partikel padat, atau cairan dalam siroplasma. Letaknya di bagian dalam tumbuhan, misalnya empulur batang, akar, umbi, umbi lapis dan akar rimpang. Organ tersebut sel-selnya berisi cadangan makanan berupa: gula, tepung, lemakdan protein. 3. Parenkim air, dijumpai pada tumbuhan hidup di daerah kering (xerofit), tumbuhan epifit,dan tumbuhan sukulen sebagai penimbun air untuk menghadapi masa kering. 4. Parenkim udara dijumpai pada alat pengapung tumbuhan. Parenkim udara dapat puladijumpai pada tangkai daun Canna sp. sebagai tempat penyimpanan udara. 5. Parenkim angkut terdapat pada jaringan pengangkut yang sel-selnya berbentukmemanjang menurut arah pengangkutannya. Berdasarkan bentuknya, parenkim dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu: 1. Parenkim palisade, merupakan parenkim penyusun mesofil, kadang pada biji berbentuk sel yang panjang, tegak, mengandung banyak kloroplas. 2. Parenkim bunga karang, juga merupakan parenkim penyusun mesofil daun, bantuk danukurannya tak teratur dengan ruang antarsel yang lebih besar. 3. Parenkim bintang (aktinenkim) berbentuk seperti bintang bersambungan ujunganya dijumpai pada tangkai daun Canna sp. 4. Parenkim lipatan, dinding selnya mengadakan lipatan ke arah dalam serta banyak mengandung kloroplas, dijumpai pada mesofil daun pinus dan padi. 3. Jaringan Penguat/Penyokong Jaringan penguat penyokong jaringan yang memberikan kekuatan bagi tubuh tumbuhan agar dapat melakukan perimbangan-perimbangan bagi pertumbuhannya. Disebut juga jaringan penguat karena memiliki dinding sel yang tebal dan kuar serta sel-selya telah mengalami spesialisasi. Berdasarkan bentuk dan sifatnya, jaringan mekanik dibedakan menjadi jaringan kolenkim dan jaringan sklerenkim. a. Jaringan Kolenkim Jaringan kolenkim terdiri atas sel-sel yang mengalami penebalan selulosa. Jaringan kolenkim berperan penting sebagai jaringan penguat terutama pada organ-organ tumbuhan yang masih aktif mengadakan pertumbuhan pada perkembangan. Ciri-ciri sel pada jaringan kolenkim antara lain: - Sel-selnya hidup dengan protoplasma aktif, bentuk sel sedikit memanjang - Umumnya memiliki dinding dengan penebalan tidak teratur - Tidak memiliki dinding sel sekunder tetapi memiliki dinding primer yang lebih tebal daripada sel-sel parenkim - Lunak, lentur dan tidak berlignin. - Isi sel dapat mengandung kloroplas makin sederhana diferensiasinya makin banyak kloroplasnya, sehingga menyerupai parenkim, juga dapat mengandung tanin.Secara ontogeni, jaringan kolenkim berkembangdari sel-sel memanjang mirip prokambium dan terlihatpada tingkat awal diferensiasi meristem atau berkembangdari sel-sel isodiametris pada jaringan meristem dasar.Oleh karena kolenkim tidak memiliki dinding sekunderdan bahan penguat (lignin), maka kolenkim dapatmenyokong batang tanpa menghalangi pertumbuhan.Jaringan kolenkim biasanya berkelompok dalam bentukuntaian atau silinder. Kolenkim tumbuh memanjangmengikuti akar dan daun yang disokongnya.Kolenkim dapat dijumpai pada batang, daun, sertabagian-bagian bunga dan buah. Pada akar yang terkenasinar matahari juga dapat dijumpai adanya kolenkim. Pada kebanyakan tumbuhan Monocotyledoneae tidakdapat dijumpai adanya kolenkim jika sklerenkim dibentuk sejak tumbuhan masih muda.Berdasarkan penebalan dinding sel-nya, kolenkim dapat dibedakan menjadi 4 tipe, yaitu: 1) Kolenkim anguler (kolenkim sudut), penebalan dinding terdapat pada sudut sel dan menajang mengikuti sumbu sel. Contohnya pada tangkai daun Vitis sp., Begonia sp., Solanum tuberosa dan Atropa belladonna. 2) Kolenkim lameler (kolenkim lempeng), penebalan dinding sel terutama pada dinding tangensial (sejajat permukaan organ) sehingga pada irisan melintang terlihat seperti papan yang berderet-deret. Contonhya pada korteks batang Sembucus javanica dan Sambucus nigra. 3) Kolenkum tubular (lakunar), penebalan dinding sel terdapat pada bagian dinding sel yang menghadap ruang antar sel. Contohnya pada tangkai daun Salvia, Malva dan Althaea. 4) Kolenkim tipe cincin, pada penampang lintang lumen sel berbentuk lingkaran atau seperti lingkaran. Pada waktu menjelang dewasa terlihat bahwa karena pada tipe sudut penebalan bersambungan pada dinding sel maka lumen tidak menyudut lagi. b. Jaringan Sklerenkim Jaringan sklerenkim jaringan penyokong yang dijumpai pada organ tumbuhan yang tidak lagi mengalami pertumbuhan dan perkembangan atau pada tumbuhan yang telah dewasa. Jaringan sklerenkim terdiri atas serabut (serat-serat sklerenkim) dan sklereid (selsel batu). Ciri-ciri sel pada jaringan sklerenkim, yaitu: - Sel-selnya telah mati dengan dinding sel yang tebal - Dinding sekunder yang tebal, umumnya terdiri dari zat lignin - Bersifat kenyal, pada umumnya tidak lagi mengandung kloroplas - Sel-selnya lebih kaku daripada kolenkim, sel sklerekim tidak dapat memanjang 1) Serabut Serabut pada umumnya terdapat dalam bentukuntaian atau dalam bentuk lingkaran. Di dalamberkas pengangkut, serabut biasanya merupakansuatu seludang yang berhubungan dengan berkaspengangkut atau dalam kelompok yang tersebardi dalam xilem dan floem.Berdasarkan tempatnya, serat sklerenkimdibedakan menjadi dua, yaitu serat xilem apabilaserat tersebut terdapat di dalam jaringan xilem dan serta ekstra xilem apabila seratterdapat di luar sistem jaringan xilem. Serat-serat sklerenkim mempunyai ukuranantara 2mm sampai dengan 25cm. Serat sklerenkim yang panjang dapat dijumpai pada Agave, Hibiscus sabdariffa dan Hibiscus canabinus. 2) Sklereid Sklereid terdapat dalam semua bagian tumbuhan, terutama di dalam kulit kayu, pembuluh tapis dan dalam buah atau biji. Sel sklereid bisa terdapat secar soliter sebagai idioblast atau dalam kumpulan sel dengan jumlah yang besar bahkan pada tempurung kelapa (Cocos nucifera) hampir seluruhnya terdiri dari sklereid. Secara ontogenis, sklereid berkembang dari sel-sel parenkim melalui penebalan sekunder dinding selnya. Berdasarkan bentuknya, sklereis dibedakan menjadi 5 macam, yaitu: 1. Brakisklereid, merupakan sel batu yang bentuknya seperti insang ikan, dijumpai pada floem kulit kayu serta daging buah tertentu seperti pear (Pyrus communis). 2. Makrosklereid merupakan sbutan bagi sklereid yan bentuk seperti tongkat dan dijumpai pada kulit biji tumbuhan suku kacang-kacangan (Leguminosae). 3. Osteosklereid apabila berbentuk seperti tulang dengan ujung yang membesar dan kadang-kadang sedikit bercabang. Sklereid ini dijumpai dalam kulit biji dan kadng-kadang dalam daun Dicotyledoneae. 4. Asteroslereid merupakan sklereid yang bercabang-cabang berbentuk seperti bintang dan sering terdapat pada daun. 5. Trikoslereid merupakan sklereid yang memanjang seperti benang dengan satu percabangan teratur. 4. Jaringan Pengangkut (Vaskuler) Jaringan pengangkut pada tumbuhan tingkat tinggi terdiri dari xilem dan floem. Xilem meliputi trakea dan trakeida serta unsur-unsur lain seperti serabut dan parenkim xilem. Xilem,khususnya trakea dan trakeida berfungsi mengangkut mineral dan air dari akar sampai daun,sedangkan floem berfungsi mengangkut hasil fotosintesis dari daun ke bagian organ yanglain, yaitu batang, akar, atau umbi. Floem terdiri dari buluh tapis, sel pengiring dan parenkim floem. a. Xilem Xilem merupakan suatu jaringan pengangkut yang kompleks terdiri dari berbaai macam bentuk sel. Pada umumnya sel-sel penyusun xilem telah mati dengan dinding selyang sangat tebal tersusun dari zat lignin sehingga xilem berfungsi juga sebagai jaringanpenguat. Unsur-unsur xilem terdiri dari unsur trakeal, serat xilem dan parenkim xilem. 1) Unsur Trakeal Unsur trakeal merupakan unsur yang bertugas dalam pengangkutan air beserta zat terlarut di dalamnya, dengan sel-sel yang memanjang, tidak mengandung protoplas (bersifat mati), dinding sel berlignin, mempunyai macam-macam noktah. Unsur trakeal terdiri dari dua macam sel, yaitu trakea dan trakeida. Trakea (pembuluh kayu) terdiri dari deretan sel yang tersusun memanjang dengan ujung berlubang dan bersambungan pada ujung dan pangkalnya, sedangkan trakeida merupakan sel panjang dengan ujung yang runcing tanpa adanya lubang sehingga pengangkutan melalui pasangan noktah pada dua ujung trakea yang saling menimpa. Bagian trakea yang berlubang disebut lubang perforasi. Pada tumbuhan dikenal tiga macam lempeng perforasi, yaitu lempeng perforasi sederhana dengan sebuah lubang yang memenuhi seluruh dinding ujung sel yang ditempati, lempeng perforasi skalariform dengan lubang pipih dan sejajar lempeng sehingga menunjukkan bentuk tangga, lempeng perforasi jala dengan jalinan lubang membentuk jala. Lempeng perforasi skalariform dan jala disebut juga lempeng perforasi majemuk. 2) Serat Xilem Serat xilem merupakan sel panjang dengan dinding sekunder yang biasanya berlignin. Ada dua macam serta pada tumbuhan, yakni serta trakeid dan serat libriform. Serta libriform mempunyai ukuran lebih panjang dan dinding selnya lebih tebal dibanding serta trakeid. Dijumpai adanya noktah sederhana pada serar libriform, sedangkan serat trakeid memiliki noktah terlindung. 3) Parenkim Xilem Parenkim xilem biasanya terdudun dari sel-sel yang masih hidup. Dijumpai pada xilem primer maupun xilem sekunder. Pada xilem skunder dijumpai dua macam parenkim. Yaitu parenkim kayu dan parenkim jari-jari empulur. Parenkim kayu sel-selnya dibentuk oleh sel-sel pembentuk fusi unsur-unsur trakea yang sering mengalami penebalan sekunder pada dindingnya. Dijumpai adanya noktah berhalaman dan noktah biasa. Sel-sel parenkim xilem befungsi sebagai tempat cadangan makanan. Zat tepung biasanya tertimbun sampai pada saat-saat giatnya pertumbuhan kemudian berkurang bersamaan dengan kegiatan kambium. Parenkim jari-jari empulur tersusun dari sel-sel yang pada umumnya mempunyai dua bentuk dasar, yakni sel-sel yang bersumbu panjang ke arah radial dan sel-sel bersumbu panjang ke arah vertikal. b. Floem Floem merupakan jaringan pengangkut yangberfungai mengangkut dan mendistribusikan zat-zat makanan hasil fotosintesis dari daun ke bagian tumbuhan yang lain. Floem tersusun dari berbagai macam bentuk sel-sel yang bersifat hidup dan mati. Unsur-unsur floem meliputi unsur tapis, sel pengiring,sel albumin (pada Gymnospermae), serat-serat floemdan parenkim floem. 1) Unsur-unsur tapis Ciri khas dari unsur tapis dalah hanya daerah tapis dindingnya tipis dan inti hilang dari protoplas. Daerah tapis diartikan sebagai daerah noktah yang termodifikasi dan tampak sebagai daerah cekung di dinding yang berpori-pori. Pori-pori tersebut dilalui oleh plasmodesmata yang menghubungkan dua unsur tapis yang berdampingan. Sel-sel tapis merupakan sel panjang yang ujungnya meruncing di bidang tangensial dan membulat di bidang radial. Dinding lateral banyak mengandung daerah tapis yang berpori. Pada komponen bulu tapis, dinding ujungnya saling berlekatan dengan dinding ujung sel di bawahnya atau di atas sehingga membentuk deretan sel-sel memanjang yang disebut pembuluh tapis. 2) Sel Pengiring Sel pengiring berhubungan erat dengan pembuluh tapis. Sel-sel pengiring biasanya merupakan untaian atau deretan yang menyerupai sel parenkim dengan sel-sel yang yang bersifat hidup. Sel pengiring diduga berperan dalam keluar masuknya zat-zat makanan melalui pembuluh tapis. 3) Sel Albumin Sel albumin merupakan sel-sel jari-jari empulur dan sel-sel parenkim buluh tpais yang mengandung banyak zat putih telur dan terletak dekat dengan sel-sel tapis pada tumbuhan Gymnospermae. Diduga sel-sel albumin mempunyai fungsi serupa dengan sel pengiring. 4) Serat-Serat Floem Letak serat-serat floem pada berkas floem bervariasi. Pada floem primer, serat terdapat pada bagian jaringan sebelah luar yang awalnya berkelompok membentuk suatu klaster atau masa kemudian dalam perkembangannya akan menjadi homogen. Sedang pada floem sekunder letak serat mengikuti berbagai pola. Serat dewasa dapat bersifat hidup maupun mati. Serat hidup dapat juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan. 5) Parenkim Floem Parenkim floem merupakan jaringan parenkim biasa yang terletak di bagian buluh tapis,merupakan sel hidup yang berfungsi sebagai tempat penyimpan zat-zat tepung, lemak dan zat-zat organik lainnya. pengangkutan pada tumbuhan 1. Pengambilan Zat – zat oleh Tumbuhan dari Lingkungan Tumbuhan memerlukan beberapa zat dari lingkungannya, terutama air, mineral, oksigen, dan karbon dioksida. Oksigen dan karbon dioksida dari udara diambil oleh tumbuhan tingkat tinggi melalui daun. Air dan garam mineral yang terkandung di dalam air diserap tumbuhan dari dalam tanah melalui rambut akar. Bagian akar yang aktif terlibat dalam menyerapan garam mineral adalah pada daerah perpanjangan tepat dibelakang ujung akar. pada waktu penyerapan air, unsur – unsur mineral yang larut dalam air juga terbawa masuk kedalam akar. Proses pengambilan karbondioksida dan oksigen dari udara serta air, dan unsur -unsur dari dalam tanah oleh tumbuhan, berlangsung dengan cara difusi, osmosis dan transpor aktif. 2. Pengangkutan Air dan Mineral Pengangkutan air dan garam mineral yang diperoleh dari tanah berlangsung melalui dua cara, yaitu : a. Pengangkutan Ekstravaskular Pengangkutan air dan mineral diluar berkas pembuluh disebut pengangkutan ekstra vaskular. Pada pengangkutan ekstravaskular, setelah sampai di sel epidermis akar, air akan bergerak di antara sel –sel korteks. Untuk memasuki silinder pusat (stele), air harus melewati sitoplasma sel-sel endodermis, dan setelah sampai di stele, air akan bergerak bebas di antara sel-sel. pengangkutan ekstravaskular dapat terjadi secara apoplas dan simplas. b. Pengangkutan Intravaskular Pengangkutan intravaskular berlangsung dari akar menuju bagian atas tumbuhan melalui berkas pembuluh, yaitu xilem. Pengangkutan air dan mineral dari akar sampai ke daun bermula dari xilem akar ke xilem batang menuju ke xilem tangkai daun dan ke xylem tulang daun. Tulang dau mengandung ikatan pembuluh. Dari xilem tulang daun, air masuk ke sel-sel bunga karang pada mesofil. Air dan garam-garam mineral tersebut akan digunakan dalam proses fotosintesis dan transportasi. Dapat disimpulkan bahwa pengangkutan air dan mineral dari dalam tanah sampai ke tubuh tumbuhan melalui lintasan berikut: Rambut akar → epidermis → korteks → endodermis → xilem akar → xilem batang → xilem daun → parenkim mesofil daun. DAFTAR PUSTAKA Anonim. Dermal Tissues. Diambil dari: http://www.phschool.com/science/biology_place/ biocoach/ plants/dermal.html Anonim. Jaringan Meristem. Diambil dari: http://kambing.ui.ac.id/bebas/v12/sponsor/Sponsor- Pendamping/Praweda/Biologi/0049%20Bio%202-2a.htm Anonim. Jaringan Parenkim. Diambil dari: http://www.e-dukasi.net/mapok/mp_files/mp_303/ materi07.html Anonim. Pertumbuhan Pada Tumbuhan. Diambil dari: http://www.e-dukasi.net/mapok/ mp_full.php?id=303&fname=materi03.html Anonim. Stoma. Diambil dari: http://www.palaeos.com/Plants/Lists/Glossary/GlossarySi.html Fahn, A. 1995. Anatomi Tumbuhan Edisi Ketiga. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Syamsuri, Istamar, dkk. 2004. Biologi untuk SMA Kelas XI Semester 1. Jakarta: Erlangga

contoh soal ulangan harrian TIK kelas XI tentang Microsoft Excel

Friday, 21 February 2014

contoh berita duka

innalillahiwainna ilahirroji'un telah meninggal dunia adek kami dari SMAN 1 praya lale elyza zahroyana dari x mia 6... kami mhn seiklasnya dari temen2 yg sempt membaca,untuk menghadiahkan surah Al-fatihah...semoga almarhumah di temp-tkan di sisi Allah swt, dan Allah mengampuninya..

Contoh Pengumuman Penerimaan siswa baru

YAYASAN PONDOK PESANTREN BIRRUL WALIDAIN NW KETAPAK DESA PENGENGAT PUJUT LOMBOK TENGAH NTB Alamat: Dadap Desa Pengngat Pujut Lombok Tengah NTB Kepada Yth. Calon Siswa Baru di Tempat PENGUMUMAN PENERIMAAN SISWA BARU NOMOR : 10/MTs.BW-NW/VI/2013 Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Berdasarkan hasil rapat Dewan Guru tentang standar kelulusan calon siswa baru tanggal 21 Juni 2013, maka dengan ini meneranagkan bahwa : Nama : ………………………………………….. Dinyatakan DITERIMA / TIDAK DITERIMA di Kelas VII Tahun Tahun Pelajaran 2013/2014. Demikian untuk maklum, dan terima kasih Dadap, 22 Juni 2013 Kepala Madrasah JUMERAH,S.Pd

Friday, 14 February 2014

PENGERTIAN DAN CIRI-CIRI KELOMPOK SOSIAL

I. PENGERTIAN DAN CIRI-CIRI KELOMPOK SOSIAL A. PENGERTIAN KELOMPOK SOSIAL Definisi menurut beberapa ahli: 1. Paul B. Horton dan Chester L. Hunt, kelompok social sebagai kumpulan manusia yang memiliki kesadaran akan keanggotaannya dan saling berinteraksi. 2. Soerjono Soekanto, kelompok social adalah himpunan atau kesatuan-kesatuan manusia yang hidup bersama karena adanya hubungan antara mereka secara timbale balik dan saling mempengaruhi 3. Hendropuspito, kelompok social sebagai suatu kumpulan nyata, teratur dan tetap dari individu-individu yang melaksanakan peran-perannya secara berkaitan guna mencapai tujuan bersama. Dapat disimpulkan bahwa kelompok social adalah sekumpulan manusia yang memiliki persamaan cirri dan memiliki pola interaksi yang terorganisir secara berulang-ulang, serta memiliki kesadaran bersama akan keanggotaannya SYARAT KELOMPOK SOSIAL 1. Setiap anggota kelompok memiliki kesadaran bahwa ia bagian dari kelompok tsb. 2. Adanya hubungan timbal balik antaranggota 3. Adanya faktor pengikat, seperti kesamaan ideologi, kesamaan kepentingan atau kesamaan nasib 4. Memiliki struktur, kaidah dan pola perilaku 5. Bersistem dan berproses B. CIRI-CIRI KELOMPOK SOSIAL 1. Merupakan kesatuan nyata dan dapat dibedakan dari kelompok atau kesatuan manusia lain 2. Memiliki stuktur sosial yang setiap anggotanya memiliki status dan peran tertentu 3. Memiliki norma yang mengatur hubungan diantara para anggotanya 4. Memiliki kepentingan bersama 5. Adanya interaksi dan komunikasi di antara para anggotanya II. DASAR PEMBENTUKAN KELOMPOK SOSIAL 1. Faktor kepentingan yang sama (Common Interest) Misalnya : kelompok arisan, kelompok seniman, kelompok olahragawan 2. Faktor darah dan keturunan yang sama (Common Ancestry) Misalnya : kelompok keturunan Arab, kelompok keturunan Cina 3. Faktor geografis Misalnya : masyarakat yang tinggal di daerah Pantai membentuk kelompok nelayan 4. Faktor daerah asal yang sama Misalnya : KMJB (Keluarga Mahasiswa Jabar), Keluarga Besar Minang III. MACAM-MACAM KELOMPOK SOSIAL A. Klasifikasi menurut cara terbentuknya 1. Kelompok semu Ciri-ciri kelompok semu : - Tanpa rencana dan terbentuknya secara spontan - Tidak terorganisir dalam suatu wadah tertentu - Tidak ada interaksi, tidak ada interrelasi, dan tidak ada komunikasi secara terus-menerus - Tidak ada kesadaran berkelompok - Kehadirannya tidak konstan a. Kerumunan Bentuk-bentuk kerumunan • Formal audience / khalayak penonton / pendengar resmi: mempunyai pusat perhatian dan persamaan tujuan tetapi sifatnya sangat pasif Contoh : penonton boiskop, hadirin suatu khotbah • Planned expressive group : kerumunan yang tidak begitu mementingkan pusat perhatian tetepi mempunyai persamaan tujuan serta kepuasan yang dihasilkan Contoh : orang yang berdansa, berpesta dan berekreasi • Inconvenient causal crowds: kerumunan yang bersifat terlalu sementara yang ingin mempergunakan fasilitas-fasilitas sama Contoh : orang antri karcis, orang yang menunggu bis • Panic causal crowds / kerumunan panik: orang-orang dalam keadaan panik yang sedang berusaha menyelamatkan dari suatu bahaya • Spectator causal crowds / kerumunan penonton : terjadi karena orang-orang ingin melihat suatu peristiwa tertentu, hampir sama dengan khalayak penonton tetapi kerumunan penonton tanpa direncanakan • Acting lawless crowds / acting mob / kerumunan emosional : mempunyai tujuan tertentu dengan menggunakan kekuatan fisik yang berlawanan dengan norma- norma social • Immoral lawless crowds / kerumunan tak bermoral : segala tindakannya berlawanan dengan norma-norma pergaulan hidup b. Massa Ciri-ciri massa • Terdiri dari orang-orang dalam segala lapangan dan tingkatan sosial • Anonim dan heterogen • Tidak terdapat interaksi dan interelasi • Tidak mampu bertindak secara teratur • Adanya sikap yang kurang kritis, gampang percaya pada pihak lain, amat sugestible (mudah dipengaruhi) c. Publik Ciri-ciri publik (khalayah ramai) • Kelompok yang tidak teratur • Interaksi secara tidak langsung melalui media massa • Perilaku publik didasarkan pada perilaku individu • Anonim dan terdiri atas berbagai lapisan masyarakat • Mempunyai minat yang sama terhadap suatu masalah • Minat yang sama tersebut belum tentu mempunyai opini atau pendapat yang sama terhadap suatu masalah • Berusaha menguasai masalah tsb • Adanya kecenderungan mereka berfikir rasional 2. Kelompok nyata a. Statistical Group (Kelompok Statistik) Ciri-ciri kelompok statistik • Tidak direncanakan, tidak disengaja, tidak berarti sangat mendadak / spontan tetapi sudah terbentuk dengan sendirinya • Tidak terhimpun dan tidak terorganisir dalam wadah tertentu • Tidak ada interaksi, tidak ada interrelasi, dan tidak ada komunikasi secara terus-menerus • Tidak ada kesadaran berkelompok • Kehadirannya konstan b. Societal Group (Kelompok Sosieta) Ciri-ciri kelompok sosieta • Tidak direncanakan, tidak sengaja, terbentuk dengan sendirinya • Kemungkinan terhimpun dalam suatu wadah tertentu • Kemungkinan terjadi interaksi, interrelasi, atau komunikasi • Kemungkinan terjadi kesadaran kelompok • Kehadirannya konstan c. Social Group (Kelompok Sosial) Sering disamakan dengan masyarakat dalam arti khusus. Terbentuk karena adanya unsure-unsur yang sama, seperti tempat tinggal, pekerjaan yang sama, kedudukan yang sama, atau kegemaran yang sama. Memiliki anggota yang berinteraksi dan melakukan komunikasi secara terus menerus. Contoh: tetangga, teman d. Associational Group (Kelompok Assosiasi) Ciri-ciri kelompok asosiasi • Direncanakan atau sengaja dibentuk • Terorganisir secara nyata dalam suatu wadah • Ada interaksi dan interrelasi serta komunikasi secara terus-menerus • Adanya kesadaran kelompok yang kuat • Kehadirannya konstan Contoh: dalam lembaga pendidikan, kesatuang angkatan bersenjata B. Klasifikasi menurut erat longgarnya ikatan antaranggota Menurut Ferdinand Tonnies: a. GEMEINSCHAFT (PAGUYUBAN) Kelompok sosial yang anggota-anggotanya memiliki ikatan batin yang murni, bersifat alamiah dan kekal Bentuk gemeinschaft • Gemeinschaft by blood (ikatan darah) Contoh : keluarga , kelompok kekerabatan • Gemeinschaft of place ( tempat) Contoh : Rukun Tetangga, Rukun Warga • Gemeinschaft of mind (dasar ideologi): terdiri dari individu yang memiliki jiwa dan pikiran yang sama karena ideologi yang sama b. Gesselscaft (patembayan) : ikatan lahir yang bersifat pokok untuk waktu yang yang pendek, strukturnya bersifat mekanis dan bersifat sebagai suatu bentuk pikiran belaka Ciri-ciri gesselshaft : • Hubungan terbatas pada urusan tertentu • Hubungan antar peran dan status • Bersifat publik life C. Klasifikasi kelompok sosial menurut pencapaian tujuan a. Kelompok formal : memiliki peraturan tegas dan sengaja dibuat oleh anggotanya untuk mengatur hubungan antaranggotanya b. Kelompok informal : terbenhtuk karena pertemuan yang berulang-ulang dan merasa memiliki kepentingan dan pengalaman yang sama D. Klasifikasi menurut pendapat Merton a. Membership group merupakan kelompok social yang setiap orang secara fisik menjadi anggota kelompok tersebut b. Reference group kelompok social yang menjadi acuan bagi seseorang yang bukan anggota kelompok untuk membentuk pribadi dan perilakunya sesuai dengan kelompok acuan. E. Klasifikasi menurut sudut pandang individu a. In group (kelompok sendiri) kelompok social tempat individu mengidentifikasikan dirinya b. Out group (kelompok luar) kelompok yang menjadi lawan in group, menjadi dasar munculnya sikap etnosentris F. Klasifikasi menurut kualitas hubungan antar anggota a. Kelompok primer Suatu kelompok yang hubungan antar anggota saling mengenal dan bersifat informal b. Kelompok sekunder suatu kelompok yang hubung antaranggotanya bersifat formal, impersonal dan didasarkan pada asas manfaat.

Wednesday, 5 February 2014

CONTOH SURAT UNDANGAN

MADRASAH TSANAWIYAH BIRRUL WALIDAIN NW KETAPAK DESA PENGENGAT KEC.PUJUT LOMBOK TENGAH Alamat : Ketapak Pujut Loteng NTB Kode Post.83573 Ketapak, 10 September 2013 Nomor : 09 /MTs.BW-NW/IX/2013 Lampiran : - Perihal : Undangan Rapat Pembentukan Tim Pengembang Madrasah Kepada Yth.Bapak/Ibu Guru/Pegawai Komite & Yayasan Di – Tempat. Bismillahi Wabihamdihi Assalamu‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Sehubungan dengan beberapa hal yang terkait dengan tahapan pelaksanaan akreditasi madrasah di MTs. Birrul Walidain NW Ketapak, maka kami bermaksud mengundang Bapak/Ibu/Saudara untuk bersama-sama membahas hal tersebut sekaligus membentuk Tim Pengembang Madrasah yang insya Allah akan dilaksanakan nanti pada : Hari/Tanggal : Selasa/ 6 September 2013 Waktu : 08.30-12.00 Tempat : Gedung MTs. Birrul Walidain Mengingat pentingnya acara dimaksud maka diharapkan kehadiran Bapak/Ibu/Saudara tepat waktu. Sekian undangan ini kami buat dan terima kasih sebelumnya kami ucapkan atas partisipasi dan kerjasamanya yang baik. Wallahul Muwaffiqu Walhadi Ila Sabilirrasyad Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Kepala Madrasah, JUMERAH, S.Pd